Categorized | Budaya

Saku Anas, Nasi Adem

Posted on 21 June 2013 by Priyo Pambudi Utomo

Panas adem, adem panas….
Kalau disingkat nasdem, anas….

Hehehe, dua nama yang sama-sama populer. Kalau anas selalu dikaitkan dengan Hambalang, nasdem malah sibuk menggalang, menggalang hamba yang malang. Jangan keliru interpretasi, lha wong malang dalam kamus Sastro itu muka petualang.

Kapan hari Sastro cerita kalau habis dikerjain anak SD waktu diajak ngajari bikin PR-nya dia.
“Nganyelke,kang…. Lha wong nanya, kang Sastro…perpindahan penduduk dari desa ke kota di sebut apa? Tak jawab URBANISASI. Betul, kalau perpindahan uang rakyat ke kantung pribadi di sebut apa? Aku mikir lama, nggak ketemu…Di diktat terbitan dosen UNJEM nggak ada. Trus di jawab sendiri sama anaknya: kang Sastro mendho, lha wong jawabane gampang. URBANINGRUM. Beh-beh, aku dikerjai sama anak kecil.”

Aku tertawa mendengarkan cerita Sastro. Ironi, memang. Ketika anak kecil dengan mudahnya bisa bercerita tentang korupsi yang membudaya,eh ditingkat elit malah tetep saling tarik menarik kepentingan. Salah bener bukan lagi menjadi persoalan.

“Yo ngunu iku, Tro…Ojo mbayangke sing di atas, lha iki banyak warga kadipaten Gaplek yang tidak puas. Kapan hari ada pembagian JAMKESMAS, eh banyak orang miskin yang tidak kebagian. Malah saudara dan teman-teman pamong yang dapat….”

“Kok kurang ajarmen tho kang?” Sahut Sastro dengan nada jengkel.
“Yo ngunu iku…Lha padahal namanya pamong iki khan kepanjangan dari PARA AMONG, tukang ngemong, ngemong rakyate. Ora dadi budak sedulure atau temane. Tapi yo ngunu iku kenyataane….” Aku memberikan penjelasan.

“Susah yo kang?”
“Hahaha, paradoks selalu terjadi setiap hari di negeri ini. Sama dengan cangkriman kenapa Farid La Guna yang wajahnya mirip dengan Pepi-nya Tukul selalu nyidam makan iwak Terri padahal banyak iwak Kakap berseliweran di depan nuraninya? Ya karena mainstream penduduk kita di bikin seperti itu….”

“Padahal kita wajib sekolah,yo kang…”
“Tidak ada hubungannya sekolah dengan moral dan perasaan, moral dan perasaan hanya dapat dimunculkan ketika hukum Tuhan dan hukum manusia diselaraskan. Tidak saling dipertentangkan. Sama seperti kasus JAMKESMAS, kalau di dasari watak pengabdian akan lain soal dengan yang di dasari nafsu keserakahan…”

Sastro tertawa kecil.

“Berarti JAMKESMAS harus diganti kepanjangannya, kang Pri?”
“Diganti piye?”

“JAMINAN KESENGSARAAN MASYARKAT LUAS…”

“Wow nggak pake koprol?”
“Ora ming meja kursine pamong paling dijungkirbalikne masyarakat sing rumongso terjamin kesengsaraane, kang….”

Lhadalah, kucluk nek iki!!!!

***

Leave a Reply

Connect with Facebook